YOGYAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Astri.
- Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait menyarankan kandidat yang diusung partainya dalam Pemilihan Gubernur DKI, Jokowi-Ahok, mempersilakan calon lawan yang diuntungkan kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) maju sendirian.
“Kalau nggak bener proses pilkadanya, lebih baik biar mereka maju sendirian saja, punya malu nggak,” kata Ara, panggilan Maruarar Sirait, di Yogyakarta, Selasa malam, 05/06/2012.
Ara mengaku geram dengan adanya temuan dari tim sukses Jokowi–Ahok yang menemukan daftar pemilih janggal yang jumlahnya masih mencapai ribuan. “Jakarta itu sebagai pusat informasi yang sudah didukung teknologi memadai. Kalau sampai seperti ini terjadi dan dibiarkan KPU DKI, berarti memang inginnya (pilkada) nggak bersih, jadi mending biar main sendiri,” kata pria yang juga anggota Komisi XI DPR RI itu.
Ara mengatakan publik boleh menuding balik atau curiga soal kasus ini jika yang mempermasalahkan hanya Jokowi-Ahok. “Tapi ini kan kelima-limanya mempermasalahkan. Harusnya KPU DKI introspeksi. Ini kan jauh-jauh hari juga dipermasalahkan, jadi jangan hanya retorika saja pemilukada demokratis dan transparan,” kata dia.
Ara sendiri gamang dengan niat pejabat berwenang untuk memperbaiki DPT itu mengingat pada 24 Juni nanti telah dimulai kampanye. “Kalau KPU-nya memang tidak siap ya sudah biarkan pilkada sendiri saja,” ujarnya.
Rabu, 06 Juni 2012
Kisruh DPT, Jokowi Disarankan Biarkan Lawan Maju
YOGYAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS)
By: Astri.
- Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait menyarankan kandidat yang diusung partainya dalam Pemilihan Gubernur DKI, Jokowi-Ahok, mempersilakan calon lawan yang diuntungkan kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) maju sendirian.
“Kalau nggak bener proses pilkadanya, lebih baik biar mereka maju sendirian saja, punya malu nggak,” kata Ara, panggilan Maruarar Sirait, di Yogyakarta, Selasa malam, 05/06/2012.
Ara mengaku geram dengan adanya temuan dari tim sukses Jokowi–Ahok yang menemukan daftar pemilih janggal yang jumlahnya masih mencapai ribuan. “Jakarta itu sebagai pusat informasi yang sudah didukung teknologi memadai. Kalau sampai seperti ini terjadi dan dibiarkan KPU DKI, berarti memang inginnya (pilkada) nggak bersih, jadi mending biar main sendiri,” kata pria yang juga anggota Komisi XI DPR RI itu.
Ara mengatakan publik boleh menuding balik atau curiga soal kasus ini jika yang mempermasalahkan hanya Jokowi-Ahok. “Tapi ini kan kelima-limanya mempermasalahkan. Harusnya KPU DKI introspeksi. Ini kan jauh-jauh hari juga dipermasalahkan, jadi jangan hanya retorika saja pemilukada demokratis dan transparan,” kata dia.
Ara sendiri gamang dengan niat pejabat berwenang untuk memperbaiki DPT itu mengingat pada 24 Juni nanti telah dimulai kampanye. “Kalau KPU-nya memang tidak siap ya sudah biarkan pilkada sendiri saja,” ujarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar